Selasa, 29 April 2014

ketika iya itu bukan iya

apa yang sedang kamu pikirkan?
apa yang akan kamu lakukan?
dan apa yang akan setelah itu kamu lakukan lagi,
atau kamu atau aku harus iya, mengiyakan sesuatu yang sebenarnya tak patut kita iyakan,
namun apa ternyata ia ingin kita mengiyakan sesuatu yang menurut ia itu baik dan benar,
ini kerap terjadi di akhir akhir ini pun dari dulu, namun luput dari perhatian dan pemahaman kita (mungkin), iya ini terjadi di dalam hidup kita baik pembenaran dan penyalahan, dan ia pun tahu jika ia sebenarnya bukan siapa siapa namun ia adalah sebuah sikap atau sebuah tindakan refrensif kita untuk selalu setuju dan mengiyakan (tanpa pernah tahu apa iya yang sebaik baik iya dan sebenar benarnya iya)


sedikit melebar di pilihan pileg atau pun pilpres apa rasa akan iya itu masih murni utuh apa adanya tanpa ada pretensi apa pun? mari kita sama sama ngaji ucap dan laku sampai di mana iya itu? apakah iya akan selalu ada dan tidak ada ketika kita di benturkan dengan persoalan sepiring nasi? apakah iya akan selalu jujur? iya aku tidak jujur, namun aku dan kamu kau kalian semua akan belajar jujur untuk iya pada tempatnya pada di mana iya akan selalu di iyakan dan untuk tidak iya pun pada tempatnya.,salam :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar